Rabu, 26 Januari 2011

BUDIDAYA TANAMAN HORTIKULTURA


BUDIDAYA TANAMAN HORTIKULTURA




I. PENDAHULUAN

Tujuan Instruksional Umum : Diharapkan setelah mempelajari bab ini mahasiswa dapat mengetahui ruang lingkup Hortikultura, cara pembudidayaan dan penanganan lepas panennya serta pengendalian hama dan penyakitnya.

Tujuan Instruksional Khusus :
Setelah mempelajari bab ini mahasiswa dapat :
  1. Mengetahui definisi hortikultura
  2. Mengetahui cirri – cirri hortikultura
  3. Mengetahui perkembangan hortikultura di Indonesia
  4. Mengetahui prospek hortikultura didalam negeri maupun di luar negeri

Ruang Lingkup Hortikultura termasuk dalam ilmu Agronomi (bercocok tanam umum)
Hortikultura berasal dari kata Hortos : yang berarti Kebun dan Colere : yang berarti mengusahakan (budidaya), jadi Hortikultura merupakan penguasaan khusus meliputi tanaman sayur – sayuran, tanaman hias, dan tanaman buah – buahan yang meliputi aspek ; cara bercocok tanam, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit.

Cirri – cirri tanaman Hortikultura
Hasil tanaman hortikultura mempunyai sifat (cirri – cirri ) khusus yaitu sbb :
  1. Mudah / cepat busuk, tetapi selalu dibutuhkan setiap hari dalam keadaan segar. Sejak panen sampai pasar memerlukan penanganan secara cermat dan efisien karena akan mempengaruhi kualitas dan harga pasar.
  2. Memiliki nilai estetika, jadi harus memenuhi keinginan masyarakat umum. Keadaan ini sangat sulit karena tergantung pada cuaca, serangan hama dan penyakit, namun dengan biaya tambuhan kesulitan itu dapt diatasi.
  3. Pruduksinya musiman, beberapa diantaranya tidak tersedia sepanjang tahun, contohnya : Durian, Langsat, Rambutan, Manggis dan lain sebagainya.
  4. Memerlukan voleme (ruangan) yang besar, menyebabkan ongkos angkut menjadi besar pula dan harga pasar menjadi tinggi.
  5. Memiliki daerah penanaman (geografi) yang sangat spesifik atau menuntut Agroklimat tertentu, contoh : Jeruk Tebas, Durian Balai Karangan, Langsat Punggur, Duku Palembang, Jeruk Garut, Mangga Indramayu, Markisa Medan, Rambutan Parit Baru, Nenas Palembang dan lain sebagainya.


I.1. Perkembangan Hortikultura Di Indonesia

            Tanaman hias dan bunga potong telah berkembang sejak 1983 di daerah Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra Timur, Yang terdiri dari bunga  potong, tanaman hias pot, tanaman hias pohon, anggrek, anyelir, mawar, krisan, gladiol, dan lain sebagainya.

            Jumlah dan jenis – jenis baru mulai meningkat seperti melon,jagung manis, brokoli, sedikit demi sedikit mulai berkembang.
Kondisi usaha Hirtikultura di Indonesia tergambar sebagai berikut :
  1. Lahan terbatas, biasanya bertanam di pekarangan,
  2. Budidaya tradisional, bibit asal – asalan, kadang kala tidak sesuai dengan Agroklimat, demikian pula dengan pemupukan, pemberantasan hama dan penyakit.
  3. Jenis tanamannya heterogen,
  4. Penanganan pasca panen masih sangat sederhana.

Tanaman sayuran memegang peranan, penting namun dilihat dari peningkatan eksportnya peranan buah – buahan cukup besar. Sedangkan bunga potong dan tanaman hias terutama dihasilkan pada daerah dataran tinggi kecuali jenis Anggrek dapat dibudidayakan di dataran rendah.

I.2. Pemasaran Produksi Hortikultura Di Luar Negeri

            Pasar luar negeri cukup cerah, ini terlihat dari peningkatan eksport. Tersedianya tenaga kerja merupakan potensi Indonesia dalam rangka meningkatkan pasaran luar negeri komoditi hortikultura.
            Permintaan produk tanaman hortikultura sejak 1960 berupa buah – buahan seperti : mangga,papaya, nanas, dan alpukat. Tahun 1980 – an permintaan akan bunga potong mulai berkembang, sejak 1990-an permintaan akan tanaman buah – buahan seperti : langsat, durian, sawo, jeruk dan pisang.

Factor – factor yang menyebabkan peningkatan eksport produk tanaman Hortikultura di luar negeri adalah :

  1. Meningkatnya penduduk (etnis) yang tinggal di Negara tersebut misalnya di Belanda, Australia, dan Amerika.
  2. Akibat promosi, baik oleh Negara pengimport maupun oleh Negara pengeksport.
  3. Meningkatnya jumlah restoran “Oriental – food” di luar negeri
  4. Meningkatnya teknologi transportasi jarak jauh.

Kendala – kendala yang timbul disebabkan oleh :

  1. Mutu produk masih perlu ditingkatkan,
  2. Serangan hama dan penyakit,
  3. Ukuran,
  4. Warna, rasa dan sebagainya
  5. Bebas residu pestisida





Negara pengimport produk Indonesia

            Sayur – sayuran yang tidak tumbuh pada musim dingin seperti : terung, paprika, kapri, kentang, kol, bawang di eksport ke Negara tujuan seperti : Singapura, Malaysia, Taiwan. Syarat eksport tergantung selera konsumen, untuk buah – buahan belum terlalu matang, bersih dari hama penyakit dan beratnya (contoh alpukat) antara 270 – 330 g/buah serta bebas dari residu pestisida.

            Bunga – bungaan dieksport ke Jerman, Amerika, Perancis, Jepang dan Thailand dengan jenis seperti Azalea, Begonia, Kalanchoe, saint Paulia, Mawar, Anggrek, Ficus, Heliconia, Alpinia, dan sebaginya. Syaratnya mutu tanaman harus segar, bebas hama dan penyakit serta bebas residu pestisida.

            Ilmu yang terkait lainnya yang berhubungan dengan pengetahuan hortikultura adalah seperti ilmu Fisiologi Tumbuhan, Biokimia, Genetika, Botani, Ilmu Tanah, Ekologi, Klimatologi, Fisika serta hama (entemologi) dan penyakit tanaman.






Contoh latihan soal !
Kerjakan soal dibawah ini dengan singkat dan tepat.

  1. Apa yang saudara ketahui tentang Hortikultura jelaskan !
  2. Sebutkan cirri – cirri dari hasil produk tanaman hotikultura !
  3. Apa yang membedakan kondisi hortikultura di Indonesia dan luar negeri ?
  4. Kendala apa yang dihadapi dalam pengeksport hortikultura ?
  5. Sebutkan jenis tanaman yang bukan kelompok tanaman hortikultura tetatpi pada kondisi tertentu dapat di golongkan kedalam produk hortikultura ? berikan alasannya !















II. PERTUMBUHAN TANAMAN


TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

Setelah mempelajari Bab ini mahasiswa dapat :
  1. Mengetahui bagian – bagian tanaman serta fungsinya,
  2. Menyebutkan bagian – bagian bunga,
  3. Mengetahui poses fisiologi tanaman dalam kaitannya dengan panen yang dikehendaki,
  4. Menjelaskan neraca pertumbuhan tanaman,
  5. Mengetahui factor lingkungan alami dan buatan yang mempengaruhi tanaman.


II. 1. Bagian Tanaman

II.1.1. Akar

Berfungsi sebagai :
    1. Untuk menyerap air dan hara melalui bulu – bulu akar. Penyerapan melalui proses osmosis dan difusi (bila air dalam tanah lebih banyak dari pada dalam tanaman)
    2. Sebagai alat pengangkutan air (jaringan kondusif)
    3. Alat untuk menegakkan tanaman
    4. Alat penyimpan hasil fotosintesis
    5. Alat pembiakan tanaman

II.1.2. Batang

Brefungsi sebagai :
1.      Mensupport atau menjang cabang, tunas, daun, dan buah.
2.      Alat pengangkutan air
3.      Penyimpan hasil fotosintesis
4.      Sebagai alat pembiakan tanaman
Modifikasi dari batang dapat berupa duri, sulur, bulb(umbi lapis), tuber, rhizome, dan corm.

II. 1. 3. Daun

Terdiri dari : a. dasar daun
                     b. petiole (tangkai daun)
                     c. helai daun

Berfungsi  sebagai :

1.      Tempat fotosisntesis dan respirasi, namun respirasi juga terjadi pada seluruh jaringan tanaman
2.      Transpirasi, keluarnya air melalui stomata
3.      Alat pembiakan tanaman

Modifikasi daun berfungsi sebagai :

1.      Proteksi, helai kuncup melindungi kuncup
2.      Penyimpanan daun pada bawang
3.      Penyimpanan air pada tanaman yang sukulen
4.      Penangkap insektisida pada tanaman “pitcher plant” (kantong semar)

II. 1. 4. Bunga

Terdiri dari :

1.      Calyx, yaitu dasar bunga biasa berwarna hijau, yang merupakan kumpulan dari sepal.
2.      Corola, yaitu berwarna warni merupakan kumpulan dari petal, ada yang regular (bentuk dan ukuran petal sama) dan irregular (bentuk dan ukuran petal tidak sama).

II. 2. Fase Pertumbuhan

            Pertumbuhan tanaman ada 2 macam :

1.      Pertumbuhan Vegetatif (fase pemakaian karbohidrat) yaitu : Perkembangan batang, daun, akar yang berhubungan erat dengan proses pembelahan sel, pemenjangan sel dan proses diferensiasi.
2.      Pertumbuhan Reproduktif (fase akumulasi karbohidrat ) yaitu : Dewasanya daun, akar dan terjadi pembentukan bunga, buah, biji, dewasanya akar yang berdaging atau umbi.

Manifestasi dari fase reproduktif ini adalah terjadinya hal – hal antara lain sebagai berikut :

1.      Akumulasi gula
2.      Pembentukan hormone – hormone yang penting dalam perkembangan primordial buanga,
3.      Peletakan tunas – tunas bunga,
4.      Pematanagan jaringan,
5.      Terjadi cadangan karbihidrat pada umbi,
6.      Perkembanagan dan pemasakan bunga, buah dan biji,
7.      Pembentukan bahan pemegang air : koloid hydrophilic.


II. 3. Neraca Pertumbuhan Vegetatif dan Reproduktif

            Neraca pertumbuhan vegetatif dan reproduktif untuk menentukan arah pertumbuhan, kedua keadaan ini bisa diumumpamakan sebagai suatu neraca yang memberikan 3 kemungkinan sebagai berikut :

1.      V – r : dimaksudkan adalah fase vegetaif lebih doniman atau dengan kata lain pemakaian karbohidrat akan lebih besar dari akumulasi (penumpukannya), sehingga tanaman kelihatan menjadi kekar. Pada fase ini ditandai dengan pembentukan batang, daun, dan akar.
2.      V – R  :  dimaksudkan fase vegetatif sebanding denagan fase reproduktif, dengan kata lain bahwa pemakaian karbohidrat seimbang dengan penumpukan karbohidrat sehingga tanaman kelihatan moderate (sedang)
3.      v – R  :  dimaksudkan bahwa fase reproduktif lebih dominant dari pada fase vegetatif dengan kata lain pemakaian karbohidrat lebih kecil dari pada penumpukan karbohidrat sehingga tanaman akan kerdil, lebih awal berbunga dan berbuah

Neraca pertumbuhan vegetatif dan reproduktif ini sangat erat hubungannya dengan tujuan kita dalam mengusahakan suatu tanaman, apakah hasil yang diinginkan berupa buah, umbi, daun, batang, dan sebaginya yang semuannya hasil – hasil ini dibentuk dalam fase pertumbuhan, disamping itu erat hubungannya dengan pengetahuan mengenai pemupukan.


II. 4. Lingkungan tanaman

            Lingkungan tanaman meliputi iklim, tanah, hubungan antara tanaman dengan hewan atau tanaman lain.
            Iklim sangat berperan baik langsung maupun tidak langsung. Hujan, radiasi matahari (panas, sinar), suhu, angin, kelembaban, air dan awan kesemuannya saling mempengaruhi terhadap proses fisiologis ; fotosintesis dan respirasi, traspirasi serta absorbsi.
            Tanaman hortikultura dipengaruhi oleh iklim mikro yaitu ± 2 m diatas permukaan tanah. Pengaruh lain dari bangunan – bangunan, vegetasi, karakteristik tanah akan merubah kondisi setempat sehingga iklim mikro sangat penting bagi tanaman hortikultura. Dibawah ini terlihat factor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan.



II. 5. Perlakuan Untuk Mengatur Pertumbuhan
         dan Perkembanagan Tanaman
           

Tanaman dapat diatur pertumbuhannya sesuai dengan keinginan kita pengaturan perkembanagan pertumbuhan ini dapat dilakukan secara fisisk, kimia, biologi dan penggunaan zat pengatur tumbuh.

II. 5. 1. Pengaturan Secara Fisik
           
Tujuan pengaturan secara fisik adalah :

1.      Merubah ukuran, bentuk, arah pertumbuhan,
2.      Untuk kesehatan tanaman dengan jalan membuang bagian tanaman yang sakit.
3.      Pemangkasan dilakukan untuk mendapatkan kualitas buah, bunga.
Pemangkasan dilakukan bagi cabang – cabang yang tidak produktif.


            Pemangkasan dapat dilakukan terhadap cabang dan akar yaitu : membuang / memotong cabang – cabang tanaman sedemikian rupa dengan maksud memperbanyak cabang, menghasilkan tanaman yang rendah (mempermudah panen), mempermuda tanaman yang telah tua dan mempercepat serta mengatur pembungaan.

            Saat pemangkasan proses fotosintesis akan berkurang, namun akan kembali normal setelah beberapa saat sampai daun terbentuk. Jadi selama itu yang memelihara pertumbuhan menggunakan karbohidrat yang tersimpan dalam akar dan daun – daun yang ada, pergantian bagian yang dipangkas (hilang) tidaklah 100 persen akan kembali, oleh karena itu tanaman akan tumbuh kerdil atau pendek (rendah).

            Selain itu pemangkasan pucuk meningkatkan ”Juvenility” , dimana akan terjadi perubahan dari produksi fitohormon atau C/N ratio. Alat yang digunakan terlihat sebagai berikut :



            Pemangkasan akar dapat memperlambat pertumbuhan vegetatif, merangsang pembungaan, kemungkinan berhubungan dengan fitohormon atau karbohidrat. Pemangkasan dilakukan pada saat tanaman berada di pembibitan. Caranya bisa dengan pencangkulan ataupun pisau dimasukan dalam tanah atau pot. Jika pot telah penuh dengan akar, akar dipotong sebelum dipindahkan ke pot yang lebih besar atau kelapangan. Jika tidak dipotong, akar saling bergumpal satu dengan lainnya, akibatnya pengangkutan makan dan air akan terganggu tanaman akan tumbuh merana.


II. 5. 2. Pengaturan Secara Kimia

            Biasa menggunakan fitohormon, tujuannya untuk mengurangi tenaga kerja, karena dapat menggantikan, untuk menghasilkan tanaman tanaman yang kerdil.
            Syaratnya harus masuk kedalam tanaman melalui akar, daun dan batang. Aplikasi tergantung pada species, bagian tanaman sifat kimia, suhu, kelarutan, serta kelembaban. Secara umum lewat akar lebih mudah daripada lewat daun.
            Fitohormon, ada yang berasal dari tanaman dan ada yang dibuat secara sintetik ; disebut zat pengatur tumbuh. Fungsinya ada yang merubah sistem fitohormon, sebagai agen pengubah pertumbuhan dan berinteraksi diantara fitohormon sertamerubah proses fisiologis tanaman. Sebagai contoh penggunaan etilen dapat merangsang pemasakan buah, pemberian cycloheximide merangsang absisi pada buah jeruk sedangkan penggunaan auksin dapat merangsang kerja etilen dan merangsang pembungan pada nanas, namun pada tanaman lain dapat merangsang pematangan buah.

            Fitohormon adalah auksin, giberillin, sitokinin, ABA, etilen dimana kesemuannya ini merupakan senyawa organik selain hara dihasilkan oleh tanaman dalam konsentrasi rendah, mengatur proses fisiologis tanaman, berpindah (bergerak) dalam tanaman dari tempat diproduksi ke tempat lain untuk bereaksi.
            Fitohormon secara sintetik disebut zat pengatur tumbuh. Dibawah ini diberikan beberapa contoh zat pengatur tumbuh seperti : zat penghambat pertumbuhan (growth reterdant) yang cara penggunaannya harus dilarutkan dalam air lalu disemprotkan melalui daun atau disiramkan ke akar melalui tanah. Contoh : growth reterdant

a.       Butanedioic acid. Mono (2.2 dimethyl hydrazide) atau nama dagagngnya Alar atau B-nine, zat ini dapat menghambatperpanjangan ruas – ruas daun, dapat ressisten terhadap panas, kekeringan dan frost, warna daun berubah menjadi hijau tua, batang kuat, cepat dan banyak bunga.
b.      A-Rest, diberikan melalui tanah, sangat baik digunakan pada tanaman lili, kastuba, dan Chysanthemum.
c.       Cycocel dan Maleic hydrazide, biasa digunakan pada tanaman hias.




II. 5. 3. Pengaturan Secara Hayati (biologi)

        Contoh yang umum adalah menyambung tanaman, selain tujuan pembiakan digunakan juga sebagai kontrol pertumbuhan. Tujuan penyambungan adalah untuk modifikasi sifat pertumbuhan (growth habit), tahan terhadap penyakit tanaman, tahan terhadap kondisi tanah dan memperbaiki kualitas buah.
            Selain menyambung dilakukan pula ”Ringing” dimana dapat membuat tanaman menjadi kerdil, menghasilkan bunga dan buah lebih awal.


Contoh latihan soal !

  1. Sebutkan fungsi akar, batang daun dan bunga !
  2. Mengapa neraca vegetatif dan reproduktif penting dalm kaitannya dengan keinginan panen ?
  3. Sebutkan faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan !
  4. Berikan contoh pengaturan secara fisik pada tanaman !
  5. Berikan contoh pengaturan secara biologi pada tanaman !
  6. Berikan contoh pengaturan secara kimia pada tanaman !























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar